SLEMAN  PSS-SLEMAN.CO.ID – Laga lanjutan PSS Sleman menjamu sang tamu Persiba Bantul dalam gelaran Indonesia Soccer Championship (ISC-B) 2016 babak penyisihan Grup 5, Senin (23/05/2016) sore di Stadion Maguwoharjo Depok Sleman diselubungi keharuan mendalam. Salah satu suporter PSS Sleman meninggal dunia akibat kekerasan terhadap suporter membuat suasana Stadion Maguwoharjo menjadi tidak biasa. Keharuan terpampang dengan jelas melalui spanduk ungkapan duka cita di tembok pagar tribun.

Suasana mendalam pun sangat terasa ketika punggawa Super Elja dan official team memberikan penghormatan di meja karangan bunga almarhum  sudut barat tribun selatan. Hal itu pun berlanjut ketika diadakannya minutes of silence sebelum kick off babak pertama. Dukungan Sleman Fans di tribun selatan dilingkupi suasana haru. Berdiri dan bernyanyi sepanjang 2×45 menit tetap dilakukan walau suasana haru masih saja menyelimuti.

Puncak keharuan pun muncul ketika aksi koreo dengan kertas putih memenuhi tribun selatan dengan membentangkan banner ucapan duka cita untuk Stanislaus Gandhang Deswara. Keharuan suasana pun membawa para pemain PSS Sleman bermain dengan beban psikis yang dalam. Hal itu pun diakui coach Seto menjadi bagi para pemainnya ketika turun di lapangan. Bahkan Ia menceritakan para pemainnya sejak Minggu pagi ketika mencoba lapangan sudah terlihat 'nglangut'.

"Saya terus memberikan motivasi kepada para pemain untuk semangat dalam laga derby ini. Alhamdulillah kami meraih poin penuh walau tidak dalam permainan terbaik," ungkap Seto.

Punggawa PSS Sleman pun memberikan dukungan untuk menghadirkan sepak bola damai tanpa kekerasan. Match of The Match pada laga tersebut Tri Handoko memberikan dukungan ketika melakukan selebrasi setelah mencetak gol dengan membentangkan kertas putih bertuliskan, "Jika sepak bola lebih mahal dari pada nyawa maka kami lebih memilih hidup tanpa sepak bola."

Mengutip tulisan dari sastrawan Uruguay Pablo Neruda dalam Bukunya Surealisme Sepakbola Amerika Latin, "Ketika rivalitas dalam sepakbola diatas nilai-nilai kemanusiaan. Sepakbola hanyalah menjadi senjata pemusnah massal."

Semoga kita mensyukuri nikmat sepak bola dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan sportivitas. Amin YRA. (mf/pss-sleman.co.id)

September 30, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *