
PSSLEMAN.ID – Cerita mengenai PSS bersemayam rapi di benak Hempri Suyatna. Dengan antusias Ia bercerita saat menjadi suporter seringkali juga ikut tour suporter ke beberapa daerah seperti Bali, Gresik, Semarang dan beberapa tempat lain yang membuat pembawaannya kalem dan tenang menjadi lebih ceria dan bersemangat. Ia pun menuturkan momen awal mendukung PSS.
“Kebetulan saya lahir dan besar di Tridadi Sleman sehingga kemudian PSS menjadi kebanggaan masyarakat warga Sleman. Saya juga mengikuti PSS ketika era trio M, yakni Muhammad Eksan, Muhammad Muslih dan Muhammad ‘Bagong’ Ansori, pada waktu itu masih berada di level Divisi I jelang masuk ke Divisi Utama,” tuturnya.
“Sebelum era tersebut saya juga mengikuti PSS dengan skuat pemain, Ikhsan Mujtahid, Tito Pamella, Beny Prawoto dan Koni Buchori pada waktu itu saya masih di bangku SMA. Karena tumbuh berkembang di Sleman, saya handarbeni dengan tim kebanggaan warga Sleman Sembada,” timpal Hempri.
Hempri pun ikut menjadi saksi lolosnya PSS menembus Divisi Utama yang pada saat itu level tertinggi kompetisi sepak bola nasional. Sebagai pendatang baru dengan pesaing nama-nama besar di sepak bola nasional, Ia pun tidak memberikan ekspetasi lebih kepada tim kebanggaannya.
“Berprestasi yang terbaik dan bisa bersaing di kompetisi,” ungkap pria kelahiran 8 Juli 1978.
Setelah dua musim merasakan atmosfer kompetisi Divisi Utama, PSS memberikan harapan besar bagi Hempri sebagai suporter PSS yang tergabung di Slemania. Selama dua musim berturut-turut (2003 dan 2004) PSS sukses di empat besar.
“Ternyata timnya wong desa memiliki kiprah yang luar biasa pada waktu itu dengan para pemain bintangnya, Seto Nurdiyantoro, M. Eksan, trio brasil (Anderson da Silva, Marcelo Braga dan Deca dos Santos), bek kiri Bagong Ansori. Menurut saya itu era terbaik,” tuturnya.
Ia juga menceritakan euforia PSS yang luar biasa era itu, yakni banyak orang gandrung dengan PSS kemudian memberikan nama anaknya dengan nama-nama pemain PSS.
“Pertandingan kick off pukul 15.30 WIB, dua jam sebelumnya sudah di stadion. Kepanasan dan kehujanan sudah biasa pada saat itu. Telat masuk biasanya harus puas berdiri sepanjang laga,” cerita Hempri Suyatna.
Penikmat musik dangdut dan campur sari ini juga telah membuat komposisi 11 terbaik dari musim 2000 hingga 2020, yakni Didik Tri Yulianto, Muhammad Anshori, Bagus Nirwanto, Anderson da Silva, Fahrudin, Mauly Lessi, Deca dos Santos, Seto Nurdiantoro, Dirga Lasut, Marcelo Braga, Yehven Bokhashvili.
“Komposisi pemain dengan skema 4-4-2 diamond dengan pelatih, Om Daniel,” tegasnya.
Kecintaanya terhadap PSS ayah dari Ronaldo dan Maldini asyik berkecimpung di kegiatan suporter Slemania. Kesibukannya mengajar di Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fisipol UGM Ia selingi dengan menjadi Koordinator Litbang Slemania 2005-2008.
“Kami sempat menulis buku mengenai suporter sepak bola di Indonesia. Judul buku tersebut ‘Suporter Sepak Bola Indonesia Tanpa Anarkis, Mungkinkah?’ Buku tersebut mengulas peta akar konflik suporter, problematika di sekitar konflik suporter dan bagian akhir memberikan rekomendasi kepada pihak yang terkait dengan suporter sepak bola di Indonesia,” kata Hempri sejak tahun 2019 ikut masuk di manajemen PT PSS selaku Direktur Litbang dan saat ini Direktur Operasional.
(pssleman.id)
