“Selama saya masih mampu berlari, pensiun belum ada dipikiran saya”

SLEMAN, PSS-SLEMAN.CO.ID – Pemain tertua dalam skuad PSS Sleman musim ini memang selalu enerjik di lapangan. Dalam pertandingan, beberapa kali ia terlihat melakukan tendangan salto setelah menerima umpan lambung dari rekan setimnya. Dia adalah Wawan Widiantoro 38 tahun.

Lahir dari keluarga pesepak  bola, Wawan pertama kali masuk SSB pada saat kelas 6 SD, tepatnya di Kediri. Ayah dan kakaknya adalah pemain sepak bola, ini yang membuat ia terbiasa dengan atmosfer dunia kulit bundar. Ayah Wawan pernah membela Persik Kediri.

Jejak ini diikutinya dengan bergabung bersama skuat Persik Kediri saat tim ini berlaga di level Divisi II. Pada saat yang bersamaan coach Jaya Hartono pun bermain untuk Persik baik sebagai pemain merangkap pelatih. Setelah Persikmeraih juara, Wawan hengkang ke Arema Malang. Bergabungnya Wawan dengan tim Singo Edan saat itu tak berlangsung lama.

Ia kembali lagi ke Persik Kediri dan menjuarai Divisi Utama dengan dinahkodai Jaya Hartono. Kebersamaan Wawan Widiantoro dengan coach Jaya Hartono memang terbilang mesra. Wawan mengaku sudah mengenal sosok Jaya Hartono sejak kecil. Sebelum bergabung dengan PSS Sleman,  ia sempat membela PKT Bontang, PSMS Medan, Perseta dan bolak balik dari Persik Kediri dan Arema Malang.

Berbicara mengenai posisi, posisi asli Wawan adalah striker. Namun saat berkostum Arema Ia menempati posisi bek kiri. Saat ini bersama tim Super Elja, Wawan bisa menempati berbagai posisi seperti striker, wing back, sayap kiri maupun bek kanan, sesuai kebutuhan tim dan instruksi sang allenatore.

Ia mengaku belum ada niat untuk pensiun. Sepak bola adalah kehidupannya, dan Wawan memiliki prinsip selama ia masih mampu berlari, pensiun belum terpikirkan olehnya. Pemain kelahiran 20 Januari ini berpendapat bahwa setiap tim harus memiliki pemain senior. Hal ini untuk menjaga kestabilitasan tim di dalam maupun di luar lapangan. Pemain senior tentu akan menjadi contoh untuk pemain – pemain muda dalam tim begitu pesan coach Jaya kepada Wawan.

Wawan berkata, untuk menjaga kelincahannya Ia tak memiliki rahasia khusus. Hanya dengan makan teratur, istirahat yang cukup dan tentunya asupan vitamin.

”Alhamdulilah sampai usia 38 masih kuat untuk diadu sprint,” ujarnya bersemangat.

Ia mengaku tak memiliki beban sebagai pemain paling senior. Baginya ini malah memotivasi pemain-pemain muda dalam skuad.

“Iki lho umur sekian masih bisa main, jangan sampai anak-anak muda baru umur 30an udah ga bisa main.”

Menurut pemain berpostur 167cm ini PSS Sleman sudah layak masuk ISL. Melihat dari kondisi tim yang kompak baik di dalam dan luar lapangan. Ia berkata bahwa tim ini sudah seperti keluarga semua. Wawan juga berkata supporter PSS Sleman sangat antusias dalam mendukung klub kebanggaannya. Ia bahkan heran.

“Dari dulu saya perhatikan, sampai heran sama klub ini, semua bagus supporter bagus, lapangan bagus tapi kok ga ISL, ada apa? Eman-eman gitu kalo gak masuk ISL” katanya menimpali.

Ia memiliki harapan kehadiran teman-teman para pemain, bisa membantu PSS ke ISL. Targetnya tidak muluk-muluk, cukup main pertama bisa menang, main kedua bisa menang, tidak harus melihat terlalu keatas, seperti naik tangga, step by step, dan itu hasil pasti mengikuti.

“Ya Insha Allah bisa masuk ISL tahun ini,” gumamnya. (kvt&mfs/pss-sleman.co.id)

 

 

September 30, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *