PSS-SLEMAN.CO.ID, SLEMAN – Pengalaman, prestasi, karakter disiplin dan tegas menjadi pilihan jajaran direksi PT Putra Sleman Sembada menunjuk Fredy Mulli menjadi juru taktik Super Elang Jawa di kompetisi Divisi Utama musim 2017. Pria kelahiran Palopo Sulawesi Selatan tersebut memiliki sentuhan dingin yang berprestasi, Ia membawa kembali Persebaya Surabaya ke Divisi Utama pada tahun 2007 sebagai juara I Divisi Satu. Selain itu tim berjuluk Ayam Kinantan PSMS Medan dibawanya ke partai puncak Liga Indonesia sebelum ditundukkan Sriwijaya FC pada musim 2007-2008. 

Kemampuannya meracik sebuah tim tidak terbatas pada tim-tim besar saja. Ia pernah membawa Persid Jember menembus semifinal Piala Gubernur Jatim. Alasan Ia mau menerima pinangan dari tim kecil atau besar karena faktor kesamaan visi serta memiliki target serius ketika ikut di sebuah turnamen atau kompetisi. Hal tersebut Ia tunjukan dengan sikap konsisten pantang melatih tim di tengah jalan. Mantan pemain Gelora Dewata tersebut beralasan tidak adanya tantangan, karena tidak merasakan proses perjuangan mempersiapkan tim dari awal serta tidak ada kepuasan kalau melanjutkan kinerja pelatih lain. 

Perjalanan karirnya mengolah si kulit bundar dimulai ketika Fredy muda mengikuti Popnas (Pekan Olahraga Pelajar Nasional). Dari events tersebut mengantarkan dirinya mengikuti diklat PSSI Ragunan Jakarta. Polesan dari diklat tersebut membuat kemampuannya mengolah bola meningkat dan membuatnya ditarik ke Galamahasiswa Surakarta dan sempat menjadi mahasiswa Universitas Slamet Riyadi.

Tahun 1983, Ia sempat gantung sepatu dan memutuskan bekerja di pabrik baja Krakatau Steel Cilegon. Namun hasrat dan kerinduannya bermain sepakbola tidak begitu saja hilang. Dua tahun kemudian Ia memutuskan menjalani karir profesional sebagai pemain sepak bola setelah direkrut Perkesa 78 Sidoarjo. Mantab menjalani karir sebagai pemain sepakbola, Ia kemudian bermain di beberapa klub, Niac Mitra, Petrokimia Putra Gresik, Mitra Surabaya, hingga akhirnya berlabuh ke Gelora Dewata Bali hingga akhirnya memutuskan pensiun pada musim 1995.

Paska gantung sepatu, Ia tetap memilih dunia sepak bola sebagai profesi yang digelutinya sebagai pelatih. Kemampuan ciamiknya menjadi juru taktik tidak terlepas dari hobi membacanya segala informasi mengenai sepakbola mulai dari koran, majalah, dan literature sepak bola lainnya menjadi santapannya setiap hari. Semangat terus belajar membuat ilmu sepak bolanya tak pernah luntur di tengah jalan, alhasil lisensi kepelatihan kelas A AFC (Federasi Sepak Bola Asia) berhasil diraih. (mf/pss-sleman.co.id)

September 30, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *