
PSSLEMAN.ID, SLEMAN – Berbagai koleksi sejarah dihadirkan di Mini Museum 50th PSS yang berada di area memorabilia, sebagai bentuk dokumentasi perjalanan panjang Super Elang Jawa di kancah sepak bola nasional. Koleksi-koleksi tersebut tidak hanya menjadi pajangan semata, tetapi juga berfungsi sebagai media untuk menghadirkan kembali memori dan nostalgia bagi para pengunjung yang datang ke Stadion Maguwoharjo.
Setiap item yang ditampilkan merepresentasikan potongan penting dari sejarah klub, mulai dari momen pertandingan, perjalanan kompetisi, hingga jejak emosional yang melekat pada para pemain dan pendukungnya. Menariknya, koleksi yang dipamerkan ini merupakan hasil kontribusi kolektif dari berbagai kolektor dan pihak yang memiliki kedekatan dengan perjalanan PSS, sehingga menghadirkan keberagaman cerita dalam satu ruang pamer yang utuh.
Project Leader Mini Museum 50 Tahun PSS, Alif Madani menjelaskan bahwa salah satu koleksi yang paling menarik perhatian adalah sepatu milik Gustavo Tocantins yang digunakan pada laga final Liga Pegadaian Championship 2025/2026.
“Sepatu tersebut memiliki nilai historis tersendiri karena menjadi saksi momen penting ketika sang pemain berhasil membobol gawang Garudayaksa sebanyak dua kali, meski pada akhirnya PSS harus gagal di eksekusi tendangan final penentu.
“Ini ada koleksi-koleksi barang-barang yang berhubungan dengan PSS ya. Salah satunya yang paling unik itu ada sepatunya Gustavo Tokantins yang dipakai waktu final. Meskipun berakhir dengan hasil yang kurang memuaskan, sepatu tersebut tetap dianggap sebagai memorabilia ikonik yang menyimpan cerita emosional bagi perjalanan klub. Selain itu, museum juga menampilkan berbagai koleksi lain seperti syal, buku-buku, tiket pertandingan, hingga arsip koran yang menggambarkan jejak sejarah PSS dari masa ke masa,” ujar Alif Madani pada hari Kamis (21/5/2026) di Koridor Barat Stadion Maguwoharjo, Sleman.
Alif Madani menambahkan bahwa khusus untuk arsip koran, tim museum melakukan proses penelusuran langsung ke Perpustakaan Kota Jogjakarta. Dari sana, tim kemudian mendokumentasikan ulang berbagai pemberitaan lama untuk ditampilkan dalam salah satu partisi museum.
“Untuk arsip korannya sendiri tim kami kemarin dari tim museum itu juga menelusuri ke perpustakaan kota. Jadi kita foto, kita minta izin untuk foto terus kemudian kita tampilkan di salah satu partisi,” jelasnya.
Ia berharap kehadiran memorabilia ini tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga menghadirkan nostalgia bagi para pengunjung, termasuk mereka yang mungkin pernah menjadi bagian dari perjalanan sejarah PSS melalui pemberitaan maupun pengalaman langsung di masa lalu.
(pssleman.id)
