
PSSLEMAN.ID, SLEMAN – PSS Sleman harus mengakhiri pertandingan kandang pekan ketujuh BRI Super League 2026/2027 dengan kekecewaan. Menjamu Borneo FC Samarinda di Stadion Maguwoharjo, Depok, Sleman, Selasa (27/10/2026) sore WIB, mereka kalah 1-2 setelah berjuang dengan sepuluh pemain sejak penghujung babak pertama. Perjuangan tanpa henti sepanjang pertandingan belum cukup untuk menghindarkan Super Elang Jawa dari kekalahan.
Sejak pertandingan dimulai, tim tuan rumah berupaya memanfaatkan dukungan suporter untuk mengamankan poin penuh. Dari beberapa upaya serangan ke kubu lawan, satu serangan berhasil merangsek hingga kotak 16 lawan. Sayang, tendangan keras Gustavo Tocantins berhasil dihalau lini belakangn lawan yang berhasil dimanfaatkan dengan baik melalui transisi serangan balik rapi.
Situasi tersebut justru berbalik menjadi ancaman bagi Riko Simanjuntak dan kolega, serangan balik tersebut menghasilkan sepak pojok yang kemudian dimanfaatkan tim tamu untuk memecah kebuntuan. Melalui skema bola mati tersebut, Rahmad Dandy Sonriza mencetak gol pada menit ke-38 sekaligus mengubah papan skor untuk keunggulan satu gol tim tamu.
PSS Sleman berusaha merespons ketertinggalan, tetapi tantangan semakin berat menjelang turun minum. Pada menit ke-43, Stefan Ashkovski menerima kartu merah setelah wasit meninjau insiden melalui VAR. Keputusan tersebut memaksa mereka melanjutkan pertandingan dengan sepuluh pemain. Setelah itu, kartu merah mengubah seluruh dinamika permainan.
Memasuki babak kedua, tim tuan rumah tetap berusaha mengejar ketertinggalan. Namun, tim tamu memperlebar keunggulan melalui Hugo Samir pada menit ke-75. Gol Matheus Fornazari pada menit ke-85 sempat menghidupkan harapan menyamakan kedudukan. Namun, hingga peluit panjang dibunyikan, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Pelatih PSS Sleman, Pieter Huistra, mengakui kekalahan tersebut menjadi hasil yang mengecewakan bagi timnya, terlebih karena terjadi di hadapan pendukung sendiri. Meski harus menghadapi situasi sulit setelah kehilangan satu pemain, para penggawan mereka tetap berusaha memberikan perlawanan hingga menit-menit akhir untuk mengejar ketertinggalan dan mengamankan setidaknya satu poin.
“Kalah dalam pertandingan kandang adalah perasaan yang buruk, dan saya mengerti bahwa para pemain serta staf merasa kecewa. Berdasarkan jalannya pertandingan, saya pikir kedua tim tampil kurang lebih seimbang,” tuturnya.
Kartu merah tersebut mengubah dinamika permainan dan membuat PSS Sleman harus melanjutkan pertandingan dengan sepuluh pemain. Meski berada dalam situasi sulit, para penggawa Super Elang Jawa tidak menyerah. Mereka tetap berjuang, meningkatkan tekanan, dan mengambil risiko untuk mengejar ketertinggalan hingga akhir pertandingan.
“Setelah itu, kartu merah mengubah seluruh dinamika permainan. Kendati demikian, para pemain saya tidak menyerah. Bahkan saat tertinggal 1-0 dan bermain dengan 10 orang, kami terus berjuang dan mengambil risiko,” ujarnya.
Meski harus bermain dengan jumlah pemain yang lebih sedikit, PSS Sleman tetap berusaha menjaga intensitas permainan dan mencari peluang untuk membalikkan keadaan. Namun, upaya tersebut belum cukup untuk menghindarkan tuan rumah dari kekalahan setelah Matheus Fornazari memperkecil selisih gol pada menit ke-85.
“Kami menciptakan beberapa peluang, tetapi pada akhirnya kami kalah 1-2. Dengan sedikit lebih banyak keberuntungan, kami layak mendapatkan setidaknya satu poin. Kartu merah tersebut menjadi titik balik yang besar hari ini,” ujar Pieter Huistra.
Hasil ini menjadi bahan evaluasi penting bagi PSS Sleman untuk membenahi organisasi pertahanan, meningkatkan kedisiplinan dalam mengantisipasi serangan lawan, serta menjaga konsistensi permainan di tengah situasi sulit.
Evaluasi tersebut diharapkan menjadi bekal bagi Super Elang Jawa untuk bangkit, memperbaiki kekurangan, dan mempersiapkan diri secara optimal demi meraih hasil lebih baik pada pertandingan berikutnya di BRI Super League 2026/2027.
(pssleman.id)
