
PSSLEMAN.ID, SLEMAN – Produktivitas gol yang tidak seimbang bagi PSS Sleman usai merampungkan tiga awal pertandingan di BRI Super League 2026/2027 menjadi bagian penting evaluasi dan pembenahan jajaran tim pelatih.
Catatan tujuh gol yang bersarang ke gawang PSS memberikan gambaran bagi Pieter Huistra mengenai aspek yang perlu diperbaiki, sekaligus menjadi pijakan untuk membangun organisasi permainan yang lebih solid pada lanjutan kompetisi.
Dalam pandanganya, upaya memperbaiki pertahanan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemain belakang, tetapi seluruh pemain di lapangan. Menurutnya, bertahan merupakan tanggung jawab seluruh pemain di lapangan. Karena itu, ia tidak ingin menunjuk individu tertentu sebagai penyebab tingginya jumlah kebobolan.
“Ini bukan hanya soal lini pertahanan atau para pemain belakang. Bertahan adalah pekerjaan yang dilakukan oleh 11 pemain. Jadi, saya tidak menyalahkan pemain bertahan mana pun. Saya juga tidak menyalahkan penyerang,” tegasnya, Sabtu (26/10/2026) sore.
Pieter mengakui sejumlah gol lahir melalui situasi yang kurang menguntungkan, seperti gol dari tengah lapangan, kesalahan, hingga penalti. Meski demikian, kondisi tersebut tetap menjadi bahan evaluasi bagi tim.
“Beberapa gol yang kami terima juga terjadi karena situasi yang kurang beruntung. Ada gol dari tengah lapangan, kesalahan, dan penalti yang menurut saya cukup ringan. Namun, kami tetap harus bersikap kritis. Kebobolan tujuh gol dalam tiga pertandingan terlalu banyak. Jadi, kami harus memperbaikinya. Itu sudah sangat jelas,” ungkapnya.
Catatan dari tiga pertandingan awal tersebut menjadi pijakan PSS dalam memanfaatkan jeda selama tiga pekan. Pieter bersama jajaran pelatih memiliki waktu untuk membedah permainan secara lebih menyeluruh, mulai dari koordinasi antarlini, hingga peran setiap pemain dalam menjalankan skema permainan, dan organisasi saat bertahan.
(pssleman.id)
