Official Site PSS Sleman

PSSLEMAN.ID, SLEMAN – Sejarah perjalanan PSS Sleman di sepak bola Indonesia telah terbentang panjang hingga memasuki usia 50 tahun sejak berdiri pada Kamis Kliwon tanggal 20 Mei 1976 yang dimulai dari sentuhan dingin ‘Founding Fathers PSS’, yakni Sudarsono KH, H. Suryo Saryono, Sugiyarto SY, Hartadi, dan Subardi.

Dalam setiap fase perjalanannya, berbagai peristiwa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari PSS. Ada masa-masa penuh kebanggaan ketika prestasi berhasil diraih, ada pula momen-momen berat yang menguji keteguhan hati. Suka dan duka silih berganti, membentuk karakter serta jati diri yang semakin kuat dari waktu ke waktu.

Hingga akhirnya, seluruh rangkaian perjalanan itu mengalir dalam rangkuman kolektif berupa mini museum yang berlokasi di Koridor Barat Stadion Maguwoharjo yang diubah menjadi diorama yang menampilkan berbagai memorabilia yang memberikan pesan sebagai penanda lintas generasi. Bahwa setiap prestasi, setiap luka, dan setiap kemenangan lahir dari perjalanan panjang PSS Sleman yang tidak mudah.

“Mini museum merupakan bagian dari rangkaian perayaan 50 Tahun PSS Sleman. Sebagai pembuka rangkaian perayaan ulang tahun PSS Sleman, kami menghadirkan mini museum terlebih dahulu. Kegiatan ini berlangsung selama satu minggu (Minggu, 17-24 Mei 2026). Pada hari terakhir digelar festival musik sebagai acara puncak.,” tutur Project Leader Mini Museum 50 Tahun PSS, Alif Madani pada hari Minggu (17/5/2026) siang di Stadion Maguwoharjo.

Perjalanan pengunjung museum ini langsung memasuki diorama pertama yang menampilan deretan jersi PSS dari berbagai periode. Koleksi jersi ini merekam perjalanan PSS dari era Perserikatan, Liga Indonesia hingga Pegadaian Championship 2025/2026.

Setelah, pengunjung memasuki diorama kedua berupa koleksi trofi Super Elang Jawa mulai dari trofi promosi Divisi Utama tahun 1999 hingga trofi Liga 2 2018 yang mengantarkan PSS kembali ke kasta tertinggi sepak bola nasional.

“Kalau yang terakhir kemarin kan kita juga runner-up. Jadi situasinya kurang lebih sebenarnya sama, promosi tapi posisinya runner-up. Kalau yang 1999 masih ada trofinya, kalau yang kemarin enggak ada trofinya, tapi tetap promosi,” ungkap Alif Madani.

Satu hal yang menarik dari ruang trofi ini adalah adanya pesan khusus dari legenda PSS, Balet Widodo, yang ditempatkan sebagai latar belakang deretan trofi yang dipamerkan. Kehadiran pesan tersebut tidak hanya menjadi elemen visual, tetapi juga menghadirkan makna mendalam yang merepresentasikan perjalanan, perjuangan, serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Waktu pemain PSS hanya diisi pemain lokal saja, penonton sudah antusias memenuhi stadion, apalagi ditambah dengan dengan pemain asing. Penonton sudah bisa menilai Handarbeni itu. Yang penting handarbeni itu”

Setelah melewati dan menyaksikan diorama ruang trofi, pengunjung akan disambut oleh history wall yang merekam perjalanan panjang PSS Sleman dari tahun 1976 hingga 2026. Dinding sejarah ini menghadirkan rangkaian kisah yang tersusun secara kronologis, menampilkan berbagai momen penting yang menjadi tonggak perjalanan klub dari masa ke masa.

Di dalamnya, pengunjung dapat melihat bagaimana pergantian era, dinamika kompetisi, hingga berbagai fase naik-turun perjalanan PSS, setiap potongan cerita disusun untuk menghadirkan kembali memori kolektif yang pernah dilalui klub dan para pendukungnya.

Tidak hanya bersifat informatif, history wall ini juga diperkaya dengan narasi historis yang memberikan konteks pada setiap peristiwa, sehingga pengunjung tidak sekadar melihat, tetapi juga merasakan alur perjalanan panjang yang membentuk identitas PSS Sleman hingga mencapai titik saat ini.

(pssleman.id)