
PSSLEMAN.ID, SLEMAN – Ichsan Pratama adalah bagian dari ingatan kolektif suporter PSS Sleman—sosok yang pernah membawa luka sekaligus kebanggaan. Pada Babak 8 Besar Liga 2 2017 di Stadion Maguwoharjo (Senin, 2/9/2017), bersama PSPS Pekanbaru, termasuk Riki Dwi Saputro, menjadi aktor comeback dramatis 2-3 yang menutup langkah PSS menuju Liga 1 musim itu.
Namun cerita berbalik setahun kemudian. Di Liga 2 2018, PSS merekrutnya di tengah pro-kontra, sebelum ia menjawabnya dengan performa. Beroperasi sebagai gelandang serang, Ichsan menjadi motor kreativitas tim—menciptakan peluang, menghidupkan serangan, dan menopang produktivitas lini depan termasuk Cristian Gonzales. Musim itu berakhir manis: PSS promosi ke Liga 1 2019, dan Ichsan dinobatkan sebagai pemain terbaik Liga 2 2018. Ia menjadi salah satu kunci perjalanan bersejarah tersebut.
Namun euforia itu tak berlanjut lama. Di puncak keberhasilan, Ichsan justru memilih berpisah dengan PSS. Kepergiannya meninggalkan rasa getir—karena ia pergi saat Laskar Sembada baru saja tiba di tujuan yang dulu ikut ia bantu wujudkan.
Setelah beberapa musim malang melintang bersama sejumlah klub di tanah air, Ichsan akhirnya kembali ke PSS dengan situasi yang sama saat pertama kali datang, yakni berada di kasta kedua kompetisi sepak bola Indonesia. Kembalinya sang gelandang flamboyan juga tak lepas dari keinginan Ichsan untuk kembali menorehkan prestasi indahnya bersama PSS saat membawa promosi ke Liga 1 2019. Ia pun ingin mengulangi kembali pada musim ini.
Mengutip wawancara pada pra musim Pegadaian Championship 2025/2026. Ichsan Pratama berjanji memberikan kontribusi lebih dan berharap kembali membawa PSS ke kompetisi tertinggi.
“Yang pertama saya merasa senang kembali ke PSS Sleman, serta sudah merasa ini rumah saya. Inilah momen yang saya tunggu pulang ke rumah. Semoga saya datang kembali ke Sleman bisa memberikan kontribusi lebih. Dan semua yang kita inginkan semoga tahun (musim) ini bisa kembali ke Liga 1,” ucapnya dalam dan lirih penuh pengharapan pada hari Kamis (10/7/2025) silam.
Waktu yang terus berjalan dia sadari tak lagi sama seperti dulu, seakan setiap detiknya telah berubah arah, membawa jarak yang tak bisa disamakan dengan masa yang pernah dia genggam. Namun di tengah perbedaan itu, ada satu hal yang tetap tegak di dalam dirinya—sebuah keyakinan yang tidak ikut berubah oleh waktu.
“Situasinya mungkin ada sedikit berubah tapi tidak terlalu banyak, masih tetap PSS Sleman,” ungkapnya.
Takdir pun memberikan jawaban yang jujur, meskipun kontribusinya tidak seluas pada musim 2018. Dengan kepercayaan yang dititipkan tim pelatih melalui menit bermain, Ichsan Pratama menjalaninya sepenuh hati, memaksimalkan setiap detik yang ia pijak di atas lapangan. Bersama rekan-rekannya, ia pun menepati janji yang pernah terucap—mengantar PSS kembali pulang ke panggung tertinggi sepak bola nasional, tempat kehormatan itu seharusnya berada.
(pssleman.id)
